Jumat, 30 November 2012

laporan ptk



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
1.      Identifikasi Masalah
Proses pendidikan berarti di dalamnya menyangkut kegiatan belajar mengajar dengan segala aspek dan faktor yang mempengaruhi. Pada hakikatnya untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran, maka dalam proses tersebut menuntut terjadinya proses belajar mengajar yang optimal. Dengan mengoptimalisasi proses belajar mengajar tersebut diharapkan para siswa dapat meraih prestasi belajar yang memuaskan.
Pelajaran IPA diberikan pada setiap jenjang dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. IPA merupakan ilmu pengetahuan yang sangat berguna dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. Dan dalam upaya memahami ilmu pengetahuan lainnya. Oleh karena itu pelajaran IPA hendaknya diusahakan menjadi pelajaran yang menarik dan menyenangkan. Selain itu guru diharapkan dapat memberi motivasi supaya siswa lebih memahami materi yang disampaikan.
Kemampuan guru dalam mendidik dan mengajar tidak hanya ditunjuk dengan berhasil dalam penyusunan program pembelajaran. Namun ditunjuk oleh hasil pelaksanaan ketika proses belajar mengajar itu dilakukan. Pembelajaran di katakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau sebagian besar (75%) siswa terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Hal ini harus ditunjukkan dengan dengan ketuntasan pembelajaran yang ditandai dengan tercapainya KKM yang telah ditetapkan, disamping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari hasil proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku positif pada diri siswa.

2.      Analisis Masalah
Rendahnya hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah diduga selama ini proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru belum sebagaimana mestinya. Hal ini terlihat selama proses pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah, proses pembelajaran berpusat pada guru. Sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk berperan langsung dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sangat sedikit sekali, sehingga proses pembelajaran itu tidak terlaksana dengan optimal. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya diusahakan menjadi pembelajaran yang menarik dengan menggunakan metode demonstrasi. Dalam pembelajaran IPA akan memberi konstribusi terhadap pengembangan kemampuan berfikir, menciptakan kemampuan siswa dalam mendemonstrasikan pengetahuan yang dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

3.      Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Dengan penggunaan metode ini diharapkan bisa meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun Pelajaran 2011 / 2012.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan   latar belakang, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
Apakah penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah Rangsang Barat Tahun Pelajaran 2011 / 2012?

C.    Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Untuk meningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan metode demonstrasi siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun Pelajaran 2011 / 2012.

D.    Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Hasil PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dengan usaha perbaikan pembelajaran dengan penggunaan metode demonstrasi ini dapat memberikan manfaat dan kegunaan kepada komponen-komponen pendidikan antara lain :


1.      Bagi siswa
a.       Melalui penggunaan metode demonstrasi diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar khususnya siswa kelas IV.
b.      Meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga kegiatan belajar mengajar menyenangkan
c.       Mendidik siswa agar berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dikelas
d.      Melatih siswa agar berani menyampaikan pertanyaan maupun pendapatnya

2.      Bagi Guru
a.       Melalui penggunaan metode demonstrasi yang dilakukan sebagai strategi pembelajaran untuk meningkatkan kepercayaan diri.
b.      Meningkatkan pengetahuan guru dalam penggunaan metode yang tepat dan kreatif.
c.       Mengembangkan profesionalitas guru

3.      Bagi Sekolah
a.       Penggunaan metode demonstrasi dapat dijadikan salah satu masukan dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa.
b.      Sebagai sumbangan pemikiran dalam proses belajar mengajar.














BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Hasil Belajar
            Menurut Sudjana (2001) belajar adalah suatu kognitif yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan tersebut dapat ditunjukkan seperti pemahaman, pengetahuan sikap atau kemampuan, sedangkan menurut Sardiman (2001) belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mendengar, meniru dan sebagainya.
            Menurut slameto (1995), hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :
1.      Faktor internal siswa
Faktor internal siswa adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi aspek fisiologis (aspek yang menyangkut tentang keberadaan siswa) dan aspek psikologis ( aspek yang meliputi tingkat kecerdasan, minat, bakat, motivasi dan perhatian).
2.      Faktor eksternal siswa
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa yang meliputi faktor lingkungan siswa. Yang merupakan factor keberadaan guru, staff administrasi dan teman-teman sejawatnya, selain itu juga factor non sosial yaitu  keberadaan dan penggunaan yang dirancang sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Lebih jauh Slameto memberi ciri-ciri tentang perubahan tingkah laku yang terjadi dalam belajar tersebut, sebagai berikut :
  1. Terjadi secara sadar
  2. Bersifat kontinu dan fungsional
  3. Bersifat positif dan aktif
  4. Bukan bersifat sementara
  5. Bertujuan dan terarah
  6. Mencakup seluruh aspek tingkah laku
Berkenaan dengan hasil belajar berupa perubahan tingkah laku, diungkapkan pula dalam difinisi lain yang mengatakan bahwa belajar adalah semua aktifitas mental yang berlangsung secara interaksi aktif antara lngkungan, menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap yang bersidat relative, konstan dan berbekas. Sesuatu menjadi tahu konsep tersebut dan mampu menggunakannya dalam materi lanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi dapat dijelaskan bahwa perbuatan belajar terjadi karena interaksi seseorang dengan lingkungannya yang akan menghasilkan suatu perubahan tingkah laku pada berbagai aspek, diantaranya pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut haruslah didasari oleh individu yang belajar, berkesinambungan dan akan berdampak pada fungsi kehidupan yang lainnya. Selain itu tidak bersifat sementara, bertujuan dan perubahan yang  terjadi meliputi keseluruhan tingkah laku pada sikap, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.
Hamalik (2003) menyajikan dua definisi belajar yang umum digunakan, yaitu :
  1. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning si defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing).
  2. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Menurut Ibrahim (2006) hasil belajar siswa menyangkut semua perubahan perilaku yang dialami oleh siswa sebagai akibat proses belajar baik sebagai instructional effect maupun nurtuans effect. Tingkah laku yang dimaksud dapat berupa ketrampilan kognitif (intelektual), keterampilan sosial maupun sikap.
Keterampilan kognitif menurut Anderson dan Krathwol (dalam Ernanovita, 2007) mencakup :
1.      Mengingat (remember), yaitu kemampuan manusia untuk menggali kembali pengetahuan relevan yang tersimpan dalam memori jangka panjang.
2.      Memahami (understand), seseorang dikatakan memahami bila dia mampu membangun pengertian dari pesan pembelajaran dalam bentuk kounikasi lisan, tulisan maupun gambar.
3.      Menerapkan (apply), kemampuan seseorang untuk melakukan suatu prosedur pada situsi baru yang disediakan.
4.      Menganalisis adalah kemampuan seorang untuk menerapkan suatu materi menjadi bagian-bagian penyusunnya dan dapat menentukan bagaimana menentukan bagian-bagian berhubungan satu sama lain untuk membangun suatu struktur atau untuk mencapai tujuan tertentu.
5.      mengevaluasi adalah kemampuan seseorang untuk membuat kepuptusan berdasarkan pada criteria atau standar.
6.      Mencipta yaitu kemampuan seseorang untuk menggabungkan unsure-unsur secara bersama-sama sehingga koheren atau dapat berfungsi.

B.     Metode Demonstrasi
1.      Pengertian Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan menggunakan alat peraga untuk memperjelas pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana berjalannya suatu proses pembentukan tertentu pada siswa.
Informasi yang diperoleh siswa sehingga siswa bisa memilih apa dan bagaimana melakukan respon dalam kegiatan belajar. Respon ini, kemudian dikaitkan secara langsung dengan pilihan-pilihannya tadi. Jika menginginkan hasil yang berbeda, mereka harus bertingkah laku secara berbeda pula agar hasil yang diinginkan tercapai. Tanggung jawab untuk mengambil peluang semacam itu benar-benar berada ditangan siswa itu sendiri. Apabila mereka ikut menentukan tujuan belajarnya maka komitmennya akan tinggi dan rasa tanggung jawab untuk hasil akan meningkat.

2.      Langkah-langkah Motode Demonstrasi
Ada beberapa langkah-langkah metode demonstrasi yang harus dilakukan sepeti berikut ini :
a.       Memulai demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa untuk berfikir, misalnya melalui pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi guru.
b.      Menciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan.
c.       Memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilibatkan dari proses demonstrasi tersebut.

3.      Keuntungan Metode Demonstrasi
Ada beberapa keuntungan metode demonstrasi antara lain :
a.       Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan materi pelajaran yang dijelaskan.
b.      Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
c.       Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Siswa akan lebih menyakini kebenaran materi pembelajaran.

4.      Kelemahan Metode Demonstrasi
Ada beberapa kelemahan metode demonstrasi antara lain :
a.       Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi.
b.      Untuk menghasilkan pertunjukkan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu sehingga membutuhkan waktu yang lama.
c.       Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan yang khusus sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional.

C.    Hubungan Metode Demonstrasi Dengan Hasil Belajar
Dalam proses pembelajaran guru harus dapat mengembangkan berbagai teknik pembelajaran yang menarik dan disenangi siswa dengan menggunakan metode yang sesuai sehingga meningkatkan hasil belajar siswa. Penggunaan metode demonstrasi sangat erat hubungannya akan terlihat siswa lebih percaya diri untuk melakukan tindakan yang menyenangkan dalam pembelajaran. Siswa akan mendapatkan ilmu dari peragaan metode demonstrasi tersebut pengalaman siswa akan bertambah. Dapat membuat gagasan-gagasan dan pendapat secara aktif sehingga akan tercapai hasil belajar yang kita harapkan. Kurikulum KTSP 2006 adalah kurikulum yang menuntut belajar tuntas. Kurikulum ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk menetapkan pencapaian kompetensi, sehingga memungkinkan siswa untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan.





























BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.    Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah kecamatan Rangsang Barat dengan jumlah 19 orang siswa yang terdiri dari 9 orang siswa laki-laki dan 10 orang siswa perempuan.

Tabel 1. Waktu pelaksanaan perbaikan pembelajaran

No
Siklus
Mata Pelajaran
Hari / tanggal
Kelas
keterangan
1
I
IPA
Rabu, 14 Maret 2012
IV
Laki-laki     :    9 org
Perempuan :   10 org
2
II
IPA
Selasa, 20 Maret 2012
IV
Laki-laki     :    9 org
Perempuan :   10 org

B.     Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Pelaksanaan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) untuk perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran IPA di kelas IV SDN 18 Anak Setatah Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti pada semester 2 tahun pelajaran 2011 / 2012, dengan perencanaan kegiatan yang akan dilakukan dalam memecahkan permasalahan yang ditemui selama mengadakan proses PTK (Penelitian Tindakan Kelas), kemudian dengan perencanaan tersebut akan dipergunakan untuk mengadakan pelaksanaan serta pengamatan kegiatan perbaikan dan refleksi.

Siklus I
-          Perencanaan
a.       Menetapkan tanggal pelaksanaan yaitu pada tanggal 14 Maret 2012
b.      Menetapkan materi pelajaran yaitu gaya mempengaruhi gerak benda
c.       Mempersiapkan media pembelajaran.
d.      Mempersiapkan perangkat pembelajaran meliputi silabus, RPP.
e.       Menyiapkan lembar soal post test.
f.       Menyiapkan LKS.
g.      Menyiapkan lembar observasi yang digunakan observer.
-          Pelaksanaan
Tahap berikut ini adalah pelaksanaan tindakan untuk perbaikan pembelajaran yang dilakukan meliputi :
a.       Kegiatan awal (10 Menit)
-          Apersepsi
-          Motivasi
-          Menyampaikan tujuan pembelajaran
b.      Kegiatan Inti (40 Menit )
-          Guru mendemontrasikan berbagai cara mengubah gerak suatu benda (tarikan dan dorongan)
-          Guru menjelaskan pengertian gaya
-          Guru memberi contoh gaya dalam kehidupan sehari-hari
-          Siswa menyebutkan benda-benda yang dapat dipengaruhi oleh gaya
-          Siswa menyebutkan keuntungan yang dapat ditumbuhkan oleh gaya
-          Guru memberikan LKS
-          Siswa mengerjakan LKS dibawah bimbingan Guru
a.       Kegiatan Akhir (20 Menit)
-          Siswa menyimpulkan materi pelajaran dibawah bimbingan guru
-          Mengevaluasi kegiatan pembelajaran
-          Guru memberikan tugas

-          Pengamatan
Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang dilakukan seorang observer.

-          Refleksi
Data yang diperoleh dari kegiatan pengamatan dan hasil belajar siswa kemudian dianalisis. Hasil kegiatan tersebut dapat menjadi pedoman untuk melakukan tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya.



Siklus II
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis, sesuai dengan rencana perbaikan pembelajaran terhadap hasil nilai siswa yang belum menunjukkan hasil yang memuaskan pada siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti, maka diadakan perbaikan melalui siklus II. Dengan langkah-langkah perbaikan pembelajaran yaitu :
1.      Perencanaan
a.       Menetapkan tanggal pelaksanaan yaitu pada tanggal 20 Maret 2012
b.      Melanjutkan materi pelajaran yaitu gerak mempengaruhi bentuk benda
c.       Mempelajari materi perbaikan yang akan diberikan kepada siswa
d.      Mempersiapkan media pembelajaran
e.       Mempersiapkan perangkat pembelajaran, meliputi silabus, RPP
f.       Menyiapkan lembar soal post test
g.      Menyiapkan LKS
h.      Menyiapkan lembar observasi yang digunakan observer

2.      Pelaksanaan
Tahap berikut ini adalah pelaksanaan tindakan untuk perbaikan pembelajaran yang dilakukan meliputi :
a.       Kegiatan awal (10 Menit)
-          Apersepsi
-          Motivasi
-          Menyampaikan tujuan pembelajaran
b.      Kegiatan Inti (40 Menit )
-          Guru mendemonstrasikan contoh gaya dapat merubah bentuk benda
-          Guru menjelaskan bahwa gaya dapat merubah bentuk suatu benda
-          Guru menjelaskan contoh-contoh benda yang dapat merubah bentuk dalam kehidupan sehari-hari
-          Guru menjelaskan manfaat yang dapat ditimbulkan oleh perubahan bentuk suatu benda
-          Siswa diberi kesempatan untuk bertanya
-          Guru memberikan LKS
-          Siswa mengerjakan LKS dibawah bimbingan Guru

c.       Kegiatan Akhir (20 Menit)
-    Siswa menyimpulkan materi pelajaran dibawah bimbingan guru
-    Mengevaluasi kegiatan pembelajaran

3.      Pengamatan
Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang dilakukan seorang observer. Setelah melakukan pengamatan terlihat adanya perubahan kearah yang lebih positif terutama para siswa sudah semakin baik menguasai materi pelajaran yang disampaikan dan mampu memberikan jawaban atas tugas yang diberikan. Sehingga siswa sudah memiliki motivasi yang tinggi dalam mengikuti mata pelajaran IPA.

4.      Refleksi
Setelah data diperoleh dan dianalisa dapat ditemukan hasil tes siswa kelas IV pada mata pelajaran IPA di siklus II sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode demonstrasi dapat memberikan pengaruh positif terhadap daya serap siswa kelas IV dengan hasil belajar yang meningkat.

C.    Teknik Analisis Data
Pada setiap kegiatan penulis melakukan observasi dengan menggunakan instrument observasi untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa. Dalam mengumpulkan data dan mendapatkan data, maka penulis menggunakan teknik-teknik sebagai berikut :
1.      Teknik observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian siswa kelas IV untuk mencatat aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
2.      Teknis tes yaitu evaluasi untuk mendapat skor hasil belajar.
Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan persentase dan grafik. Jika data yang telah terkumpul lalu diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dalam bentuk kata-kata atau kalimat sedangkan kuantitatif berbentuk angka-angka dipresentasekan selanjutnya dikumpulkan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Perbaikan pembelajaran bidang studi IPA dengan menggunakan model demonstrasi ini dilakukan dalam dua siklus. Setiap penerapan tindakan diperoleh  data temuan kemudian dianalisis.

a.      Siklus I
Berdasarkan data prasiklus sebanyak 1 siswa (5,26%) yang memperoleh nilai baik sekali, 4 siswa (21,1%) memperoleh nilai baik. 9 orang siswa memperoleh nilai cukup (47,3%) dan 5 siswa (26,3%) memperoleh nilai kurang. sebagian siswa dikelas belum mencapai KKM pembelajaran Dengan demikian maka dilakukan perbaikan pembelajaran. Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I diperoleh data nilai siswa yaitu : siswa yang memperoleh nilai 87 – 100 sebanyak 5 siswa (26,3%), siswa yang memperoleh nilai 76 – 86 sebanyak  3  siswa (15,8%), sedangkan yang memperoleh nilai 65 – 75 sebanyak 8 siswa (42,1%) dan yang memperoleh nilai <65 3 siswa (15,8%) dengan perolehan nilai rata-rata keseluruhan meningkat menjadi 77,1 pada siklus I siswa belum tuntas secara keseluruhan.

b.      Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I dengan hasil yang belum sesuai dengan indikator penelitian, maka pada pertemuan siklus II diadakan perbaikan-perbaikan dari perencanaan proses perbaikan pembelajaran secara menyeluruh dengan melakukan observasi.
Pada siklus ini, siswa yang memperoleh nilai 87 – 100 sebanyak 6 siswa (31,6%), siswa yang memperoleh nilai 76 – 86 sebanyak  5  siswa (26,3%), sedangkan yang memperoleh nilai 65 – 75 sebanyak 7 siswa (36,8%) dan 1 siswa yang mendapat nilai kurang (5,26%).
Rata-rata nilai keseluruhan siswa yaitu 83,2 artinya pada siklus kedua ini nilai siswa semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat pada perolehan nilai siswa yang mencapai 80% diatas nilai KKM. Berikut ini penulis sajikan tabel rekapitulasi perolehan nilai siswa dan grafik perbandingan antara data awal, siklus I dan siklus II pada rangkaian proses pelajaran bidang study IPA siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah Rangsang Barat tahun  pelajaran 2011 / 2012.

Tabel. 2  Data hasil belajar IPA dengan menggunakan metode demonstrasi pada
               siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah Kecamatan Rangsang Barat tahun
             pelajaran 2011 / 2012

Nilai / kategori
Pra Siklus
Setelah tindakan
Jumlah siswa
Per
sentase
Siklus I
Siklus II
Jumlah siswa
%
Jumlah siswa
%
87 -100 (baik sekali)
76 - 86 (baik)
65 - 75 (cukup)
<65 (kurang)
1
4
9
5
5,26
21,1
47,3
26,3
5
3
8
3
26,3
15,8
42,1
15,8

6
5
7
1
31,6
26,3
36,8
5,26
Jumlah
19
  100
19
100
19
100

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa :
-          Pada data awal (prasiklus) siswa yang memperoleh nilai antara 87 – 100 sebanyak 1 siswa (5,26%) dari siswa seluruhnya, sedangkan pada siklus I mendapat nilai antara 87 – 100 meningkat menjadi 5 siswa (26,3%) dari jumlah seluruhnya.
-          Pada siklus I yang mendapat nilai 87 – 100 berjumlah 5 siswa (26,3%). Pada siklus II meningkat menjadi 6 siswa (31,6%) dari jumlah seluruhnya.

Dari data diatas dapat dilihat bahwa penggunaan metode demonstrasi dapat meningkat hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah Rangsang Barat.






Berikut penulis memaparkan hasil belajar siswa dengan memakai grafik dibawah ini :

Grafik 1.          Perbandingan antara data awal, siklus I dan siklus II

B.     Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Pada waktu pra tindakan dilakukan pemahaman siswa masih belum berkembang, siswa lebih banyak menunggu atau kurang aktif dalam pembelajaran. Namun setelah diberi tindakan pada siklus I dan II dengan menggunakan model Demonstrasi yang mengacu pada pencapaian kompetensi dasar sesuai dengan kemampuan siswa. Diantaranya adalah semangat pembelajaran yang terus meningkat yang dapat dilihat dari semangat siswa dalam proses  pembelajaran.










BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A.    Simpulan
Penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar  IPA siswa kelas IV SDN 18 Anak Setatah Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti tahun pelajaran 2011 / 2012.
Pada siklus I dari 19 jumlah siswa kelas IV siswa yang tuntas sebanyak 16 Orang siswa dan 3 Orang siswa yang tidak tuntas dengan nilai rata-rata keseluruhan 77,1.
Pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari 19 jumlah siswa, hanya  1 Orang siswa yang tidak tuntas dengan nilai rata-rata keseluruhan 83,2.

B.     Saran tindak Lanjut
Beberapa hal yang sebaiknya harus dilakukan guru dalam meningkatkan hasil belajar dan kualitas pembelajaran pada mata pelajaran   IPA dengan menggunakan metode demonstrasi antara lain :
  1. Dalam proses pembelajaran guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeluarkan pendapat agar siswa lebih aktif dan kreatif.
  2. Mempersiapkan kegiatan pembelajaran sebaik-baiknya agar proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
  3. Pengajar hendaknya melakukan perbaikan secara efektif apabila ditemukan kendala-kendala pembelajaran pada siswa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal hingga tercapainya tujuan pembelajaran itu.








DAFTAR PUSTAKA

Dimiyanti, dan Mudjiono, 2006. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Rineka Cipta

Depdiknas. (2006). Kurikulum 2006 KTSP IPA SD & MI. Jakarta : Depdiknas

Roestiyah, 2006 Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Rineka Cipta

Haryanto, 2004, Sains Fisika Sekolah Dasar kelas IV, penerbit Erlangga, Jakarta.

Sudjana, N, 2002, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Algesindo, Bandung

Hamalik, Oemar 2003, Kurikulum dan Pembelajaran, Bumi aksara, Bandung.

Ibrahim, M, 2006, Pembelajaran kooperatif, makalah program Pasca Sarjana Unesca, Jakarta.

Slameto, 2007, Proses Belajar Mengajar, Bandung : Bumi Aksara

Tim FKIP. (2009). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta : Universitas Terbuka

Wardini, I.G.A.K; Wihardik K. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka                                                                                     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar